Kamis, 17 November 2011

tukar virtapay dengan webmoney, juga melayani jual virtapay
deposit virtpay $ 3000
rekening BCA 0331327963 atas nama asep sarfadilah s
rate Rp. 7000 = VP $ 1

Sabtu, 29 Oktober 2011

Dahlan Iskan, kami titip harap


Oleh : Moh Samsul Arifin

Senyum itu bikin orang yang melihat tertambat, susah sungguh mencari orang yang tulus dan tanpa pamrih sepertimu di negeri yang tenggelam dengan korupsi ini. Sebuah negeri yang banyak pejabatnya menggenggam amanah bak memegang bara api.

Negeri yang dihuni politisi yang terjun di arena dengan harapan menangkap peluang ekonomi, lalu memburunya demi segunung rupiah. Lalu hidup bermewah-mewah dengan jabatan public di tangan .

Negeri yang petani, nelayan ataupun kalangan buruhnya harus sanggup sendirian merampungkan masalah ekonomi yang membelitnya tanpa pemerintah atau aparatur yang membantunya.

Negeri yang memberikan pasar yang seluas-luasnya untuk kepetingan kapitalisme global, dimasuki selaksa perusahaan multinasional, tapi riang saja tanpa merasa terusik
Negeri yang dibanjiri hasil produksi dari Negara-negara asing, wabilkhusus tiongkok, negeri yang dengan jemawa merasa nyaman dengan ekonomi pasar bebas, yang kerap menjual asset-aset penting Negara kepada asing termasuk yang sekarang berada di bawah kendalimu, BUMN.

Negeri yang makin tak mampu menjamin anak-anak bangsa bisa memperoleh pendidikan tinggi, lantaran biaya pendidikan makin tak terjangkau oleh mayoritas masyarakat, tapi itu dia pemerintah memberikan keleluasaan kepada bagi kaum kaya untuk berlomba. si miskin hanya bisa berpangku tangan menjadi penonton karena pendidikan hanya milik kaum beruang.

Negeri yang lupa dengan tujuan nasionalnya sebagaimana dipahat para bapak bangsa di pembukaan UUD 1945 lalu di jabarkan dalam pasal-pasal yang telah diamandemen beberapa kali. Negeri yang makin kehilangan pegangan, kehilangan kebanggaan bahkan kehilangan kebanggaan kecil untuk menjadi jawara di pentas asia.

Negeri yang makin tak punya identitas bahkan untuk urusan busana saja kita makin disetir sesuatu yang berada diluar sana, negeri yang pejabatnya, kelas menengahnya dan masyarakatnya terseret arus konsumerisme serta karena itu mulai kehilangan tekad dan kemampuan hidup sederhana.

Ini sudah pasti dan jelas negerei yang makin kekurangan sosok untuk diteladani bahkan pemimpin nasional di level tertinggi dan dia adalah symbol Negara tak punya kepemimpinan, peragu total, kerap bermanis-manis, serta suka bersolek demi citra politik dan popular yang tak kekal. Si pemimpin itu tidak serius ingin memberikan warisan apa buat anak bangsa di masa mendatang. Bukan lagu demi lagu yang tak perlu itu yang di kehendaki, melainkan sebongkah tugu berisi nilai atau tonggak-tonggak penting yang bermanfaat buat perjalanan negeri, kalau tidak seperti Bung Karno atau Soeharto, minimal ya meniru Gus Dur yang bisa tegas kepada negeri tetangga yang sudah berurusan dengan kedaulatan.

Kehadiranmu di cabinet Indonesia bersatu jilid II tak bisa tidak harus kami anggap sebagai setitik debu di gurun pasir yang membentang luas. Tapi, paling tidak di kementrianmu yang superpenting, BUMN, kami boleh memberikan sepotong kepercayaan. Taburilah kementrian itu dengan visi, etos, dan kerja keras.

Garisnya sudah pasti. Bersih dari korupsi, bersih dari kepentingan partai politik dan bersih dari kepentingan bisnis siapapun termasuk perahu-perahu bisnis yang dinakhodai, tentu.

Sasaranya jelas nian, bawa BUMN punya pendapat memadai, kalau tidak terbang ya setidaknya meningkat jika dibandingkan dengan periode menteri yang sudah-sudah.

Kesahajaan memancara dari senyummu yang lepas dan tandas itu. Kesederhanaan terbit dari caramu menggunakan sepatu kets kesayanganmu atau caramu menggulung kemeja lengan panjangmu, itu gayamu. Itu mungkin meringkas sebagian dirimu jadi kau tak takut untuk tetap menggunakan sepatu kets kesukaanmu saat dilantik di istana. Aku yakin, kamu tidak sedang sok nyentrik, aneh-aneh demi membetot perhatian public. Itu caramu untuk selalu menjadi dirimu, Dahlan Iskan ya begitu, tidak pernah ingin menjadi badut demi menyenangkan orang banyak atau semata demi tunduk kebiasaan di cabinet.

Aku tidak sedang memujimu setinggi langit, dan aku juga tidak sedang mendewakanmu dengan tulisan ini semua, semua adalah sebentuk rasa syukur karena masih ada orang sepertimu. Seperti yang engkau bilang mulailah dengan, kerja, kerja dan kerja. Selamat berjuang pak Dahlan Iskan.

Selasa, 18 Oktober 2011

honda astra 69

ini montor produk honda rakitan tahun 1968 dan diluncukan ke pasar awal 1969, 80 cc montor ini sangat digandrungi dijamannya, selain irit, kuat dan simple sampai di era ini tahun 2000 motor ini masih banyakdigandrungi oleh mereka para penyuka gaya klasik, karena model retro yang asik.

seorang Wiliam Shaker

Hari itu, Jumat 23 April 2010, rencana untuk bertemu dengan William Shaker sahabat saya di New York saya tunda, jam 7.00 pagi itu saya dengan isteri, kakak,dan ponakan bergegas menuju Renaissance Hotel New Jersey untuk bertemu dengan Pak Hasan Toha Putra yang kebetulan sedang berada di Amerika Serikat be...rsama dengan rombongannya. Pak Hasan adalah dewan Pembina IIBF Jawa Tengah, bisa dikatakan dari tangan Beliaulah kelahiran IIBF segera diterima secara luas oleh tokoh-tokoh dan pengusaha senior di Jawa Tengah. William Shaker adalah pengusaha, imigran, pekerja keras, sekaligus anak muda yang inspiring. Dia hidup di New York bersama dengan ibunya yang sudah tua , tidak memiliki saudara satupun kecuali ibunya itu. Berbeda dengan banyak pengusaha yang saya kenal, William Shaker memiliki usaha yang unik, berjualan kacamata "tiruan" online, istilah yang dia pakai adalah " replica sunglasses" sebagai kata ganti dari "imitasi". Bekerja sendirian dan hanya dibantu oleh seorang karyawan yang dia sebut sebagai "my runner". Will hanya berjualan secara online , melalui website , tidak memiliki toko dimanapun kecuali internet. Bagi saya, yang sangat menarik adalah keberhasilannya membangun bisnis sederhana yang benar-benar menghasilkan uang!Bisnis yang dia bangun telah mengantarkan dia memiliki kehidupan yang mewah, " In New York, you are my guest" begitulah dia selalu mengingatkan saya sambil berjanji akan mengantarkan saya kemanapun di New York dengan mobil mewahnya dan mentraktir selama saya di New York, sebuah kualitas kehidupan yang sangat jarang ditemukan di New York , rata-rata orang di New York bekerja keras untuk hidupnya. Will sangat concern dengan biaya investasi, untuk membangun websitenya dia mengaku tidak melakukannya sendiri tetapi menggunakan jasa web developer di India yang dia temukan via internet. Memerlukan kerja keras dan kesabaran hingga dia menemukan barang-barang imitasi terbaik dan termurah , dia ceritakan hampir seluruh barang dagangannya berasal dari luar negeri. Bisnisnya beroperasi dengan biaya yang super efisien, dia selalu mengontrol dari belahn dunia manapun dia berada, dan setiap harinya ada seorang karyawan yang stand by untuk memfollow up setiap transaksi yang masuk. Dalam beberapa tahun ini Will telah mendapatkan lebih dari 4.000 customer yang 80% diantara mereka adalah pembeli wholesales, pembeli yang membeli secara rutin kepada Will melalui websitenya www.impostercity.com, www.voguewear.com, www.replicawholeshalessunglasses.com, www.nywholesalessunglasses.com. Pelajaran yang kita tangkap dari seorang William Shaker adalah bahwa "keberhasilan bisnis bukanlah tentang apa yang kita lakukan , tetapi tentang bagaimana kita melakukannya". Saya yakin banyak orang yang bisa memulai bisnis seperti yang dia lakukan, tetapi berapa banyak orang yang bisa membangun bisnisnya hingga benar-benar menghasilkan uang ?William Shaker tidak hanya sekedar membuat website dan menunggu order, dia bekerja keras untuk membuat bagaimana caranya agar bisnisnya berjalan dan menghasilkan uang. Dia melakukan berbagai strategi tentang bagaimana agar orang bisa menemukan websitenya dan tertarik untuk membeli , dia mencari barang-barang terbaik dari seluruh penjuru dunia, dia memastikan bahwa orang yang membeli dari dia mendapatkan harga terbaik dan mendapatkan untung ketika menjual lagi secara retail, dia memastikan setiap order barangnya harus ada dan dikirim dengan cepat dan memastikan setiap orang yang pernah membeli akan kembali membeli. Pada pertemuan yang terakhir dengan Will tahun lalu, dia mentargetkan untuk menelpon semua pelanggan yang tidak kembali lagi, dan akan menanyakan kepada pelanggannya, " Apa yang harus saya lakukan untuk membuat Anda membeli kembali kepada saya?" Itulah William Shaker, dan pagi itu Alhamdulillah saya bisa bertemu dengan Pak Hasan di New Jersey.

ilmu dan ketrampilan bisnis

Oleh Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom. [President Indonesia Islamic Business Forum-IIBF)

Ada banyak alasan mengapa kita memulai bisnis. Namun ada tiga alasan utama yang membuat kita mau memulai bisnis. Tiga alasan itu adalah Financial Freedom, Passive Income, dan More Time.

Financial Freedom, kita memulai bisnis karena keinginan kita untuk terbebas dari masalah keuangan dan keterbatasan kemampuan keuangan. Kita ingin mampu memiliki segala sesuatu sesuai dengan keinginan, misalnya ingin membeli rumah bagus, kendaraan, atau baju bagus tanpa harus menunggu saat ada diskon. Atau ingin makan di restaurant favorit bersama keluarga dan bebas memilih makanan kesukaan tanpa harus melihat besaran angka yang ada di sebelah kanan menu yang kita inginkan.

Passive Income, dengan memilili bisnis kita membayangkan akan memiliki penghasilan tanpa harus selalu bekerja untuk mendapatkannya. Kita ingin bisnis yang kita miliki mengirimkan uang secara terus menerus. Ingin memiliki pendapatan yang terus mengalir selagi kita berlibur, selagi kita bepergian, bahkan kalau perlu selagi kita tidur.

More Time, hampir sebagian besar orang yang memulai bisnis membayangkan akan memiliki waktu yang lebih fleksibel. Tidak seperti ketika masih menjadi pekerja yang sangat terikat dengan aturan dan disiplin, harus masuk sesuai jam kerja lima hari dalam seminggu, bahkan kadang - kadang harus masuk di hari libur. Dengan memiliki bisnis sendiri kita berharap bisa berlibur kapan saja, mengantar dan menjemput anak ke sekolah, pulang kampung (buat saya sesuatu yang istimewa), atau mau melakukan apapun kapan saja tanpa harus izin sakit, izin ke ini, izin ke itu yang tidak menyenangkan sama sekali.

Setelah kita memulai berbisnis, hampir semua entrepreneurs yang saya jumpai dan termasuk saya tentunya pada awal - awal saya berbisnis, bukannya mendapatkan tiga hal di atas malah justru semakin jauh dari yang kita harapkan. Bukan Financial Freedom yang kita dapatkan malah semakin hari semakin banyak utang yang kita gali, bisnis seolah-olah tak pernah henti-hentinya membutuhkan tambahan modal.

Bulan lalu kita menyuntik dana, bulan ini tak terhindarkan lagi kita harus mencari utang kesana kemari untuk menutupi cash flow, kalau tidak kita tutupi maka karyawan tidak gajian, maka supplier tidak akan mengirimkan lagi barangnya kepada kita, dan begitulah terus tanpa ada hentinya sehingga hutang semakin dalam.

Passive Income? Kita sudah lupa lagi bahwa kita pernah membayangkan memiliki passive income dari bisnis, karena setiap hari kita selalu disibukkan dengan berbagai persoalan. Bulan lalu penjualan merosot sehingga bulan ini kita harus fokus untuk membenahi penjualan. Ketika penjualan mulai kita tangani dan membaik muncul masalah piutang yang membengkak sehingga cash flow kita terganggu. Besok, inventory kita yang terlalu tinggi dan macet di gudang, dan lagi- lagi cash flow selalu menjadi masalah.

Kita jadi frustasi karena tim kita sangat tergantung dengan kita, tidak bisa memutuskan sendiri, tidak ada inisiatif, harus selalu kita kejar-kejar, bahkan banyak perintah-perintah kita yang tidak berjalan atau tidak dijalankan. Bukannya passive income yang kita dapat tetapi very very very active income yang ada.

Setelah berbisnis, bukan More Time atau waktu berlebih yang kita dapatkan, kita bahkan sudah tidak bisa lagi pulang sore seperti ketika kita menjadi pegawai dulu. Sabtu dan minggu kadang kadang harus mengurusi bisnis, waktu untuk keluarga terganggu, libur menjadi barang mahal bagi kita. Ketika menjadi pegawai, kita senang kalau ada tanggal merah. Namun, setelah jadi entreprenuer justru sebaliknya, sebal kalau ada tanggal merah, karena yang lain libur kita tetap memikirkan pekerjaan sendirian.

Banyak entrepreneur yang kehilangan orientasi dalam berbisnis karena semakin peliknya situasi, semakin dalamnya permasalahan dan semakin kompleksnya proses bisnis yang dihadapi seiring dengan bertumbuhnya bisnis yang dimiliki. Umumnya entrepreneur memulai bisnis dengan bekal semangat dan mimpi besar, dan terus demikian semakin lama bisnisnya bertumbuh tanpa mengimbangi dirinya dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan dalam berbisnis secara memadai.

Kalau kita lihat berbagai profesi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, menjadi dokter, pengacara, dosen, guru, bahkan tukang kayu, tukang las, ataupun pengemudi, semuanya memerlukan bekal pengetahuan dan keterampilan. Pengemudi perlu pengetahuan tentang jalan-jalan, pengetahuan tentang kendaraan yang dibawanya, dan juga perlu keterampilan dalam mengemudi, menghadapi kemacetan, melewati jalan menanjak, dan memberhentikan kendaraannya dengan aman.

Demikian juga dengan entrepreneur, kita tidak dapat membangun bisnis sesuai dengan keinginan kita tanpa pengetahuan dan keterampilan, membangun bisnis yang menjadi mesin pencetak uang bagi kita, bisnis yang jalan tanpa setiap saat mengharuskan kehadiran kita, dan bisnis yang bisa mengantarkan kita meraih impian-impian kita.

Pengetahuan dan Keterampilan, itulah kuncinya. Menjadi entrepreneurs dituntut untuk selalu menuntut ilmu dan belajar, tidak hanya belajar dari pengalaman kita sendiri tetapi juga harus belajar dari pengalaman orang lain, dengan membaca buku, majalah, atau mencari mentor dari entrepreneur yang sudah berhasil membangun bisnis. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki sebagai entreprenuer kita akan terhindar dari berbagai persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. *)

ekonomi Indonesia dan gerobak dawet sumiran

Di ruas jalan Blitar – Malang di ujung jembatan bendungan Sutami arah Blitar, Sumiran  (69 tahun) berjualan es dawet. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak tahun 1974. Itulah satu-satunya sumber nafkah yang diandalkan sejak dia menyatakan mengundurkan diri dari penjaga keamanan kampungnya di Karang Kates awal tahun 1974. “Hansip itu enggak ada honor tetap mas, cuma ada uang sukarela dari warga saja,” katanya dengan logat Jawa yang kental. Sumiran kemudian memutuskan berjualan dawet keliling kampung dengan gerobak yang dia buat sendiri. Bahan baku dawetnya juga dibuat dari umbi Gadung yang dibuat tepung terlebih dulu. Pembangunan bendungan Sutami menjadi berkah tersendiri buat Sumiran. Karena banyaknya pengunjung yang melihat keindahan panorama di bendungan membuat dawet Sumiran laris manis. Sumiran kemudian memutuskan untuk mangkal di ujung jembatan itu hingga sekarang.
Dari awal berdirinya bendungan itu hingga sekarang  orang yang berkunjung ke lokasi tidak pernah berkurang. Apalagi pada akhir pekan. Banyak warga dari kota-kota seperti Blitar, Malang, Surabaya, Jember dan lain-lain datang bertandang atau liburan bersama keluarga di tempat itu. Yang membedakan dulu dan hari ini menurut laki-laki tua ini, pendapatannya terus menurun dari tahun ke tahun.  Tahun-tahun awal dia berjualan, Sumiran bisa meraih untung hingga 700%. “Pertama jualan dulu harga semangkok dawet 200 rupiah.  Dengan modal   2.000 saya biasa membawa pulang 14.000 rupiah setiap hari,” katanya mengenang. Namun sembilan tahun terakhir pendapatannya menurun tajam. Ditanya alasannya Sumiran hanya menggeleng pelan, tidak tahu apa penyebab semua itu. Padahal menurutnya orang yang berkunjung ke tempat itu tidak berubah.   Hanya saja sekarang pengunjung sangat sensitif jika harga dinaikkan. Maka dia terpaksa mengurangi isi dawetnya agar dan harga tetap. “Sekarang membawa pulang 100 ribu saja sangat sulit mas,” katanya dengan nada pasrah.   Padahal untuk sekali membuat dawet Sumiran harus mengeluarkan modal lebih Rp. 60 ribu. Artinya Sumiran mengalami penurunan omset lebih dari 600% sejak 9 tahun terakhir.
jika yang dialami Sumiran juga terjadi oleh mayoritas masyarakat Indonesia saat ini.  “Itulah inflasi, harga barang melambung tetapi nilai mata uang rendah, dan daya beli masyarakat menurun,” 

3 hal yang harus engkau miliki

Yang pertama, Engkau harus mengenali Tuhanmu dan mendalami agamaNya
Yang kedua, Engkau harus membiasakan diri untuk berbuat kebaikan
Yang ketiga, Engkau harus memiliki ketrampilan berjualan

Ketahuilah, selama engkau memegang nasehat diatas
jangan pernah khawatir tentang dirimu
Karena engkau juga tidak perlu khawatir tentang hidupmu
Dan karena engkau pasti akan menemukan suksesmu