Selasa, 18 Oktober 2011

ekonomi Indonesia dan gerobak dawet sumiran

Di ruas jalan Blitar – Malang di ujung jembatan bendungan Sutami arah Blitar, Sumiran  (69 tahun) berjualan es dawet. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak tahun 1974. Itulah satu-satunya sumber nafkah yang diandalkan sejak dia menyatakan mengundurkan diri dari penjaga keamanan kampungnya di Karang Kates awal tahun 1974. “Hansip itu enggak ada honor tetap mas, cuma ada uang sukarela dari warga saja,” katanya dengan logat Jawa yang kental. Sumiran kemudian memutuskan berjualan dawet keliling kampung dengan gerobak yang dia buat sendiri. Bahan baku dawetnya juga dibuat dari umbi Gadung yang dibuat tepung terlebih dulu. Pembangunan bendungan Sutami menjadi berkah tersendiri buat Sumiran. Karena banyaknya pengunjung yang melihat keindahan panorama di bendungan membuat dawet Sumiran laris manis. Sumiran kemudian memutuskan untuk mangkal di ujung jembatan itu hingga sekarang.
Dari awal berdirinya bendungan itu hingga sekarang  orang yang berkunjung ke lokasi tidak pernah berkurang. Apalagi pada akhir pekan. Banyak warga dari kota-kota seperti Blitar, Malang, Surabaya, Jember dan lain-lain datang bertandang atau liburan bersama keluarga di tempat itu. Yang membedakan dulu dan hari ini menurut laki-laki tua ini, pendapatannya terus menurun dari tahun ke tahun.  Tahun-tahun awal dia berjualan, Sumiran bisa meraih untung hingga 700%. “Pertama jualan dulu harga semangkok dawet 200 rupiah.  Dengan modal   2.000 saya biasa membawa pulang 14.000 rupiah setiap hari,” katanya mengenang. Namun sembilan tahun terakhir pendapatannya menurun tajam. Ditanya alasannya Sumiran hanya menggeleng pelan, tidak tahu apa penyebab semua itu. Padahal menurutnya orang yang berkunjung ke tempat itu tidak berubah.   Hanya saja sekarang pengunjung sangat sensitif jika harga dinaikkan. Maka dia terpaksa mengurangi isi dawetnya agar dan harga tetap. “Sekarang membawa pulang 100 ribu saja sangat sulit mas,” katanya dengan nada pasrah.   Padahal untuk sekali membuat dawet Sumiran harus mengeluarkan modal lebih Rp. 60 ribu. Artinya Sumiran mengalami penurunan omset lebih dari 600% sejak 9 tahun terakhir.
jika yang dialami Sumiran juga terjadi oleh mayoritas masyarakat Indonesia saat ini.  “Itulah inflasi, harga barang melambung tetapi nilai mata uang rendah, dan daya beli masyarakat menurun,” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar