Sabtu, 29 Oktober 2011

Dahlan Iskan, kami titip harap


Oleh : Moh Samsul Arifin

Senyum itu bikin orang yang melihat tertambat, susah sungguh mencari orang yang tulus dan tanpa pamrih sepertimu di negeri yang tenggelam dengan korupsi ini. Sebuah negeri yang banyak pejabatnya menggenggam amanah bak memegang bara api.

Negeri yang dihuni politisi yang terjun di arena dengan harapan menangkap peluang ekonomi, lalu memburunya demi segunung rupiah. Lalu hidup bermewah-mewah dengan jabatan public di tangan .

Negeri yang petani, nelayan ataupun kalangan buruhnya harus sanggup sendirian merampungkan masalah ekonomi yang membelitnya tanpa pemerintah atau aparatur yang membantunya.

Negeri yang memberikan pasar yang seluas-luasnya untuk kepetingan kapitalisme global, dimasuki selaksa perusahaan multinasional, tapi riang saja tanpa merasa terusik
Negeri yang dibanjiri hasil produksi dari Negara-negara asing, wabilkhusus tiongkok, negeri yang dengan jemawa merasa nyaman dengan ekonomi pasar bebas, yang kerap menjual asset-aset penting Negara kepada asing termasuk yang sekarang berada di bawah kendalimu, BUMN.

Negeri yang makin tak mampu menjamin anak-anak bangsa bisa memperoleh pendidikan tinggi, lantaran biaya pendidikan makin tak terjangkau oleh mayoritas masyarakat, tapi itu dia pemerintah memberikan keleluasaan kepada bagi kaum kaya untuk berlomba. si miskin hanya bisa berpangku tangan menjadi penonton karena pendidikan hanya milik kaum beruang.

Negeri yang lupa dengan tujuan nasionalnya sebagaimana dipahat para bapak bangsa di pembukaan UUD 1945 lalu di jabarkan dalam pasal-pasal yang telah diamandemen beberapa kali. Negeri yang makin kehilangan pegangan, kehilangan kebanggaan bahkan kehilangan kebanggaan kecil untuk menjadi jawara di pentas asia.

Negeri yang makin tak punya identitas bahkan untuk urusan busana saja kita makin disetir sesuatu yang berada diluar sana, negeri yang pejabatnya, kelas menengahnya dan masyarakatnya terseret arus konsumerisme serta karena itu mulai kehilangan tekad dan kemampuan hidup sederhana.

Ini sudah pasti dan jelas negerei yang makin kekurangan sosok untuk diteladani bahkan pemimpin nasional di level tertinggi dan dia adalah symbol Negara tak punya kepemimpinan, peragu total, kerap bermanis-manis, serta suka bersolek demi citra politik dan popular yang tak kekal. Si pemimpin itu tidak serius ingin memberikan warisan apa buat anak bangsa di masa mendatang. Bukan lagu demi lagu yang tak perlu itu yang di kehendaki, melainkan sebongkah tugu berisi nilai atau tonggak-tonggak penting yang bermanfaat buat perjalanan negeri, kalau tidak seperti Bung Karno atau Soeharto, minimal ya meniru Gus Dur yang bisa tegas kepada negeri tetangga yang sudah berurusan dengan kedaulatan.

Kehadiranmu di cabinet Indonesia bersatu jilid II tak bisa tidak harus kami anggap sebagai setitik debu di gurun pasir yang membentang luas. Tapi, paling tidak di kementrianmu yang superpenting, BUMN, kami boleh memberikan sepotong kepercayaan. Taburilah kementrian itu dengan visi, etos, dan kerja keras.

Garisnya sudah pasti. Bersih dari korupsi, bersih dari kepentingan partai politik dan bersih dari kepentingan bisnis siapapun termasuk perahu-perahu bisnis yang dinakhodai, tentu.

Sasaranya jelas nian, bawa BUMN punya pendapat memadai, kalau tidak terbang ya setidaknya meningkat jika dibandingkan dengan periode menteri yang sudah-sudah.

Kesahajaan memancara dari senyummu yang lepas dan tandas itu. Kesederhanaan terbit dari caramu menggunakan sepatu kets kesayanganmu atau caramu menggulung kemeja lengan panjangmu, itu gayamu. Itu mungkin meringkas sebagian dirimu jadi kau tak takut untuk tetap menggunakan sepatu kets kesukaanmu saat dilantik di istana. Aku yakin, kamu tidak sedang sok nyentrik, aneh-aneh demi membetot perhatian public. Itu caramu untuk selalu menjadi dirimu, Dahlan Iskan ya begitu, tidak pernah ingin menjadi badut demi menyenangkan orang banyak atau semata demi tunduk kebiasaan di cabinet.

Aku tidak sedang memujimu setinggi langit, dan aku juga tidak sedang mendewakanmu dengan tulisan ini semua, semua adalah sebentuk rasa syukur karena masih ada orang sepertimu. Seperti yang engkau bilang mulailah dengan, kerja, kerja dan kerja. Selamat berjuang pak Dahlan Iskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar